Dalam melahirkan karya khas batik Sula, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula menggandeng Konsultan Nasional, Lenny Agustin.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2003 Kabupaten Kepulauan Sula resbi berdiri pada 31 Mei 2003. Awalnya, Kabupaten Kepulauan Sula dengan Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Selatan menjadi bagian dari kabupaten Halmahera Barat. Beribu kota disanana, Kabupaten Kepulauan Sula terletak paling selatan di wilayah Provinsi Maluku Utara.

Jarak dari ibu kota provinsi di Kota Ternate sekitar 284 kilometer dan dapat ditempuh melalui jalur udara maupun laut, potensi sumber daya alam kabupaten kepulauan sula meliputi pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, kelautan, pertambangan, industri dan pariwisata. Potensi unggulan saat itu bertumpu pada sektor kehutanan dan perikanan mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah.

Selain potensi alam, Kepulauan Sula memiliki potensi kebudayaan dan terus menggali potensi budaya. Pemeritah kabupaten kepulauan sula pun terus mengerakan potensi ekonomi kreatif warganya. Hasil upaya kreatif jajaran pemerintah di bawah komando Bupati Kepulauan Sula Hendarta Thes menghasilkan Produk Khas yaitu batik sula.

Dalam menetaskan karya khas batik sula ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula menggandeng konsultan Nasional, Lenny Agustin tidak hanya melakukan riset, Lenny juga memberikan bimbingan kepada masyarakat lokal dalam proses memproduksi batik.

Pada kamis 22 Maret 2018 puluhan pembatik lokal yang telah dilatih berhasil memproduksi batik sula dengan corak Wansosa, Kenakawahi, Kenatukarek, juga Fatfinakoa. Motif yang akan diciptakan berdasarkan kekayaan Kepulauan Sula, Seperti Lebah, Pohon Kenari dan Bunga-bunga Khas.

Kepala Bidang ekonomi Teknologi Tata Guna dan Sumber Daya Alam Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula, Rabea H. Soleman pembuatan Batik Khas Sula sendiri merupakan program Bupati sula setelah mengikuti Kegiatan Kebudayaan yang berlangsung di Jakarta.

“Menurut Bupati Sulamemiliki budaya dan sejarah yang belum di anggkat secara masif, Misalnya, Pakaian adat yang saat ini masih menggunakan pakaian adat Ternate. Bupati ingin Sula punya sesuatu yang khas”. Ujar Rabea.

Menurut Rabea, proses kreatif melahirkan batik khas Sula ini diawali survei adat serta budaya Sula di beberapa desa masih kental dengan budaya leluhur. Dari hasil survei tersebut, dikumpulkan motif batik khas sula maupun pakaian adat. Lalu dilanjutkan kekemntrian pendidikan dan kebudayaan sebagai budaya khas Sula.

Saat ini kata Rabea, kegiatan mrmbatik sendiri suda berlangsung sejak empat bulan terakhir dan dan hasilnya siap dipasarkan. “Bahkan suda ada yang mulai memesan” Katanya.

Batik Sula rencananya akan dilounching bersama dengan kegiatan mancing mania. Putri Indonesia 2018 Soni Fergina Citra, digandeng pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula untuk mempromosikan batik khas Sula.

Sedangkan Lenny mengaku saat pertama kali survei, Sula sendiri tidak memiliki kain khas atau batik khas serta pakaian Adat. “Sekarang suda ada dan harus terus berlanjut”. Tuturnya. Lennny menuturkan telah mendisain lebih dari 20 motif batik. Terkait dengan pengembangan Lenny juga bersedia mempromosikan batik sula hingga ke Bangkok dan Thailan.